Adrie Basuki

Adrie Basuki

Adrie Basuki, 39 tahun, bekerja sebagai marketer di salah satu perusahaan manufaktur terbesar di Indonesia dan mencintai seni sejak kecil. Menulis buku Kembali Pada Hati - 2004 dan buku keduanya Neo - 2005 terbitan Grasindo. Di tahun 2015, kerinduan akan melukis kembali hadir dan mulai mengambil kelas di Hadiprana. Di 24 November 2018, menggelar pameran lukisan perdana nya bersamaan dengan buku ke tiga nya dengan judul yang sama Warna Perempuan sebagai perwujudan terima kasih untuk Ibu tercinta di hari ulang tahunnya.

Adrie Basuki menyukai seni sejak kecil. Setelah bereksperimen mencari media paling tepat untuk menuangkan kreatifitasnya, dia menemukan Colour Pencil Polychromos Faber Castell. Lewat pensil warna yang memiliki kelembutan sekaligus kekuatan pigmennya ini Adrie merasa dapat menghasilkan warna yang diinginkan. Eksperimen warna menjadikan pengalaman yang menyenangkan, ketika menggabungkan beberapa warna menjadi satu warna yang baru, terutama karena obyek saya perempuan, mencari warna kulit yang tepat merupakan tantangan yang berbeda, dan Polychromos memiliki koleksi warna skintone yang mampu membuat efek yang sangat baik.

Pada 3 Juli 2019, Adrie mengadakan workshop bersama Faber-Castell mengenai Skintone Exploration. Dia menerangkan untuk media pensil warna, kertas memiliki peranan yang penting. “Sebaiknya menggunakan kertas dengan permukaan rata dan halus agar warna arsiran rata,” ujarnya memulai workshop.

Adrie berkali-kali mengakui keunggulan pensil warna yang baru merayakan HUT ke 111-nya #111yearsofcolours dengan mengeluarkan kemasan retro edisi terbatasnya. “Pensil warna ini sangat mudah dihapus, jadi jangan kuatir salah mewarnai kulit ya!”

Dalam workshop ini, Adrie berbagi tips dan triknya dalam membuat karya-karya dalam art exhibition “Dreams” yang diselenggarakan dari 29 Juni 2019 sampai dengan tanggal 3 Juli 2019 lalu di Faber-Castell Store, Plaza Senayan Jakarta. Salah satunya adalah gunakan referensi gambar. “Ketika mulai menggambar dan tekniknya belum tahu banyak, sebaiknya gambarlah dengan memakai referensi. Biasanya kalau kita gambar tanpa referensi, lalu hasilnya gak bagus, ini akan membuat kita frustasi. Akhirnya malah berhenti gambar.”

Ketika mewarnai kulit, triknya adalah memberikan lapisan warna pelan-pelan, arsir dengan berlawanan agar blending warna lebih halus, dan pelan pelan menambah lapisan dengan warna yang lebih gelap . Tentukan arah cahaya, dan mana bagian yang terkena cahaya dan bagian mana yang tertutup bayangan. Sedangkan untuk kulit yang sawo matang, bisa menggunakan warna-warna midtones sebagai patokan. Untungnya Polychromos memiliki warna skin tones yang kaya, jadi Adrie bisa bereksperiman dengan leluasa.

“Yang paling penting, ketika menggambar adalah kamu happy. Jadi ketika sedang proses menggambar seneng, setelah gambar selesai hasilnya juga bikin happy. Itu yang menurut saya paling penting. Jadi proses kreatif ini akan membuat kamu akan terus, terus dan terus menggambar,” ungkap Adrie dengan senyum lebar.

Tahukah Kamu?
Faber-Castell menghasilkan lebih dari 2,3 miliar pensil kayu setiap tahun.
 Faber-Castell menghasilkan lebih dari 2,3 miliar pensil kayu setiap tahun.
Tahukah Kamu?
Faber-Castell menumbuhkan sekitar 20 m3 kayu setiap jamnya, setara dengan sekitar 1 beban truk.
Faber-Castell menumbuhkan sekitar 20 m3 kayu setiap jamnya, setara dengan sekitar 1 beban truk.
Tahukah Kamu?
Untuk produksi pensilnya sendiri, Faber-Castell hanya menggunakan kayu dari hutan yang dikelola secara lestari.
 Untuk produksi pensilnya sendiri, Faber-Castell hanya menggunakan kayu dari hutan yang dikelola secara lestari.
Tahukah Kamu?
Desain pensil kayu berubah dari bulat menjadi heksagonal / segitiga karena pensil sering jatuh terguling dari meja
Desain pensil kayu berubah dari bulat menjadi heksagonal / segitiga karena pensil sering jatuh terguling dari meja